Minggu, 23 Februari 2014

Minyak Kayu Putih

MINYAK KAYU PUTIH
DEFINISI
Minyak kayu putih (cajuput oil, oleum-melaleuca-cajeputi, atau oleum cajeputi) dihasilkan dari hasil Penyulingan  Daun  dan ranting Kayu putih  (M. leucadendra).  Minyak atsiri ini dipakai sebagai minyak pengobatan, dapat dikonsumsi per oral (diminum) atau, lebih umum, dibalurkan ke bagian tubuh. Khasiatnya adalah sebagai penghangat tubuh, pelemas otot, dan mencegah perut kembung.
Minyak ini mengandung terutama Eukaliptol  (1,8-cineol) (komponen paling banyak, sekitar 60%), α- Terpineol  dan Ester  Asetat, α- Pinen, dan Limonen.
Minyak kayu putih banyak menjadi komponen dalam berbagai salep dan campuran minyak penghangat. Salep macan  dan Minyak telon  diketahui menggunakan minyak kayu putih sebagai penyusunnya
ASAL USUL
Gelam atau Kayu putih (Melaleuca leucadendra Sinonim  M. leucadendron) merupakan Pohon  anggota suku jambu-jambuan (Myrtaceae) yang dimanfaatkan sebagai sumber Minyak kayu putih  (cajuput oil). Minyak diekstrak (biasanya di Penyulinga dengan Air) terutama dari Daun  dan Ranting. Namanya diambil dari warna Batang  yang memang putih.
Tumbuhan ini terutama tumbuh baik di Indonesia bagian timur dan Australia  bagian utara, namun demikian dapat pula diusahakan di daerah-daerah lain yang memiliki Musim kemarau  yang jelas.
Minyak kayu putih mudah menguap. Pada hari yang panas orang yang berdekatan dengan pohon ini akan dapat membauinya dari jarak yang cukup jauh.
Sebagai tumbuhan industri, kayu putih dapat diusahakan dalam bentuk hutan usaha (Agroforestri). Perhutani  memiliki beberapa hutan kayu putih untuk memproduksinya. Minyak kayu putih yang diambil dari penyulingan biasa dipakai sebagai minyak balur atau campuran minyak pengobatan lain (seperti Minyak telon) atau campuran Parfum  serta produk rumah tangga lain
Gambar 1. Klasifikasi Kayu Putih
Kayu putih dapat tumbuh di tanah tandus, tahan panas dan dapat bertunas kembali setelah terjadi kebakaran. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 400 m dpi., dapat tumbuh di dekat pantai di belakang hutan bakau, di tanah berawa atau membentuk hutan kecil di tanah kering sampai basah. Pohon, tinggi 10-20 m, kulit batangnya berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan kulit yang terkelupas tidak beraturan. Batang pohonnya tidak terlalu besar, dengan percabangan yang menggantung kebawah. Daun tunggal, agak tebal seperti kulit, bertangkai pendek, letak berseling. Helaian daun berbentuk jorong atau lanset, panjang 4,5-15 cm, lebar 0,75-4 cm, ujung dan pangkalnya runcing, tepi rata, tulang daun hampir sejajar. Permukaan daun berambut, warna hijau kelabu sampai hijau kecoklatan, Daun bila diremas atau dimemarkan berbau minyak kayu putih. Perbungaan majemuk bentuk bulir, bunga berbentuk seperti lonceng, daun mahkota warna putih, kepala putik berwarna putih kekuningan, keluar di ujung percabangan. Buah panjang 2,5-3 mm, lebar 3-4 mm, warnanya coklat muda sampai coklat tua. Bijinya halus, sangat ringan seperti sekam, berwarna kuning. Buahnya sebagai obat tradisional disebut merica bolong. Ada beberapa varietas pohon kayu putih. Ada yang kayunya berwarna merah, dan ada yang kayunya berwarna putih. Rumphius membedakan kayu putih dalam varietas daun besar dan varietas daun kecil. Varietas yang berdaun kecil, yang digunakan untuk membuat minyak kayu putih. Daunnya, melalui proses penyulingan, akan menghasilkan minyak atsiri yang disebut minyak kayu putih, yang warnanya kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. Perbanyakan dengan biji atau tunas akar.
Nama lokal :

Gelam (Sunda, Jawa), ghelam (Madura), inggolom (Batak); Gelam, kayu gelang, kayu putih (Melayu), bru galang,; Waru gelang (Sulawesi), nggielak, ngelak (Roti), ; lren, sakelan (Piru), irano (Amahai), ai kelane (Hila),; irono (Haruku), ilano (Nusa Laut Saparuna), elan (Buru).; Bai qian ceng (China)
.
PEMBUATAN
Minyak kayu putih didapatkan dari hasil penyulingan daun kayu putih. Kandungan  utama  minyak  kayu  putih  adalah  sineol  (cineole).  Semakin  besar kadar sineolnya, kualitas minyak kayu putih semakin tinggi. Selain itu daun kayu putih   juga   mengandung   komponen   lain, seperti: terpineol benzaldehyde, dipentene, limonene dan pinene
Proses  ekstraksi  minyak  kayu  putih  dari  daun  tanaman  ini  dilakukan dengan cara atau proses yang sederhana yaitu berupa penguapan minyak dari daun dan kemudian   dikondensasikan.   Selanjutnya   dilakukan   pemisahan   antara komponen  minyak  dengan  air,  yang  diperoleh  dari  semua  bahan  cair  yang diperoleh  dalam  proses  kondensasi.
Proses Produksi
Pengolahan daun kayu putih dimaksudkan untuk mengekstrak minyak kayu putih yang ada pada daun tanaman ini. Proses produksi dalam pembuatan minyak kayu putih diawali dengan pemetikan daun kayu putih. Dalam proses pemetikan ada 2 macam cara, yaitu:
1.   Pemetikan sistem rimbas, yaitu tegakan pohon kayu putih yang berumur 5 tahun ke atas,dengan ketinggian 5 meter, daunnya dipangkas. Satu tahun berikutnya, setelah tanaman kayu putih sudah mempunyai daun yang lebat, kemudian bisa dilakukan perimbasan lagi.
2.   Pemetikan sistem urut, yaitu dengan cara dipotong dengan menggunakan alat (arit)  khusus  untuk  daun-daun  yang  sudah  cukup  umur.  Cara  ini menjadi kurang praktis, karena pemetik harus memilih daun satu per satu.
Pemetikan dilakukan pada awal musim kemarau, pada saat sudah tidak banyak turun hujan sehingga tidak mengganggu pekerjaan pemetikan daun. Di samping itu, jika pemetikan dilakukan pada awal musim kemarau, pada akhir musim  hujan  (awal  musim  kemarau)  tiap  tanaman  telah  menumbuhkan  daun dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan demikian, pemetikan atau pengambilan daun-daun kayu putih dapat dilakukan sekali dalam satu tahun, jika pertumbuhan tanaman subur. Setelah  pemetikan  daun,  daun  kayu  putih  yang  siap  untuk  disuling disimpan terlebih dahulu.
Penyimpanan dilakukan dengan menebarkan daun di lantai yang kering dan memiliki ketinggian sekitar 20cm, dengan kondisi suhu kamar  dan  sirkulasi  udara  terbatas.  Dalam  penyimpanan  ini,  daun-daun  tidak boleh disimpan dalam karung karena akan mengakibatkan minyak yang dihasilkan berbau apeg dan kadar sineol dalam minyak rendah. Penyimpanan daun dilakukan maksimal selama satu minggu. Kerusakan minyak kayu putih akibat penyimpanan terutama terjadi karena proses hidrolisis dan pendamaran komponen-komponen yang terdapat  dalam  daun.  Pengaruh  hidrolisis  ini  dapat  dicegah  dengan menyimpan daun di tempat yang kering dengan sirkulasi udara sekecil mungkin. Sedangkan  pengaruh  pendamaran  dapat  diminimalkan  dengan  mempersingkat waktu penyimpanan dan menurunkan suhu penyimpanan.
Dalam   proses   selanjutnya,   daun   kayu   putih   masuk   dalam   proses pembuatan minyak kayu putih. Proses penyulingan minyak kayu putih ini terbagi dalam 3 tahap, yaitu:
1.   Pembuatan Uap
Alat-alat yang digunakan pada pembuatan uap sebagai pensuplai uap panas antara lain:
a)   Boiler berfungsi untuk memproduksi uap yang akan digunakan untuk mendestilasi minyak kayu putih dari daun kayu putih pada bak daun yang dihasilkan air yang berasal dari water softener yang dimasukkan ke dalam  boiler dengan pompa. Pada  boiler dilengkapi dengan  panel automatic, yang berfungsi sebagai pengontrol  boiler agar aman dan berfungsi  dengan  baik.  Panel automatic juga  berfungsi  mengontrol boiler untuk berhubungan dengan kipas penghisap asap keluar, pompa pengisi air boiler dan pompa water softener.
b)   Ruang Bakar berfungsi  sebagai  tempat  pembakaran  bahan  bakar  dari  daun  bekas masak kayu putih (bricket) dan sebagai tempat pemanasan air awal yang dihubungkan dengan boiler. Konstruksi dinding api dari pipa-pipa uap  yang  melengkung  dan  menjadi  satu  di  atas  dengan  pipa  uap diameter 10” dan digabungkan dengan uap yang terbentuk di  boiler. Lantai ruang bakar terbuat dari semen tahan api dan berlubang-lubang untuk pemasukan udara segar dari luar yang dihisap oleh exhaust fan.
c)   Exhaust Fan berfungsi menghisap udara panas yang telah dipakai untuk memanasi ruang bakar dari ketel uap dan memasukkan udara segar ke dalam ruang bakar untuk kemudian dihembuskan ke cycloon.
d)   Cycloon berfungsi memisahkan debu yang terhisap dari boiler oleh exhaust fan agar tidak keluar ke udara bebas.
e)   Chimney berfungsi mengalirkan asap pembakaran ke udara. Sedangkan untuk pengumpan air digunakan alat-alat sebagai berikut.
f)  Pompa feeding water berfungsi memompa air untuk masuk ke dalam boiler secara otomatis dari  tangki  air  umpan  yang  telah  dilunakkan  dalam  tangki  water softener.
g)  Water softener berfungsi  melunakkan  air  yang  masuk  ke  dalam  boiler dari  kadar kapur, agar tidak mudah membentuk lapisan kapur yang menempel di bagian dalam boiler.
h) Feed pump water softener berfungsi memompa air yang akan dilakukan ke dalam water softener dari bak air.
i)   Feed tank berfungsi menyimpan air yang sudah dilewatkan  water softener dan sudah lunak untuk dipompa masuk ke dalam boiler.
2.   Penguapan Daun
Alat-alat yang digunakan pada penguapan atau pemasakan daun adalah sebagai berikut:
a)   Bak Daun berfungsi sebagai wadah untuk keranjang yang berisi daun kayu putih yang akan diberi uap panas dari ketel uap. Kapasitas bak adalah 1.500 kg. Jumlah bak daun di pabrik ini ada 2 unit.
b)   Keranjang Daun berfungsi untuk tempat daun kayu putih yang akan dimasak / diuapi dalam bak daun, sehingga mudah untuk dimasukkan dan dikeluarkan. Kapasitas keranjang adalah 1.250  kg daun kayu putih. Jumlahnya 2 unit.
c)   Hoist Crane berfungsi untuk memasukkan dan mengangkat keranjang daun dari bak daun yang akan dan telah selesai dimasak. Kapasitas daya angkat 1 ton, sedang jumlahnya 1 buah.
3.  Pendinginan dan Pemisahan Minyak dengan Air
Alat-alat  yang  digunakan  pada  proses  pendinginan  uap  minyak daun kayu putih, antara lain adalah:
a.   Condensor berfungsi mengembunkan uap minyak air dan uap air yang keluar dari ketel uap untuk dijadikan cairan dengan cara didinginkan.
b.   Pompa air condenser berfungsi  memompa  air  pendingin   dari  bak  air  pendingin  untuk dipompa masuk ke dalam  condensor dan keluar lagi menuji  cooling tower.
c.   Cooling tower berfungsi mendinginkan air dari bak air yang akan dialirkan melalui condensor, dari suhu 1040F (400C) menjadi 920F (330C).
Sedangkan untuk memisahkan air dengan minyak kayu putih, alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut:
a)   Separator berfungsi  memisahkan  minyak  kayu   putih  dari  air  yang  keluar bersamaan dari kondensor dengan  menggunakan sistem gravitasi. Air akan  keluar  dari bagian  bawah  dan  langsung  dibuang  ke  sungai, sedangkan   minyak   kayu putih   akan      keluar   bagian   atas.   Proses pemisahan ini dikontrol melalui kaca pengamat.
b)   Tangki penampung minyak kayu putih berfungsi menampung minyak kayu putih dari separator. Kapasitas 200 liter.
Secara umum proses pembuatan minyak kayu putih adalah sebagai berikut:
1. Daun kayu putih dipetik terlebih dahulu dari pohonnya kemudian baru dilakukan penyulingan secara sederhana
2. Setelah itu daun minyak kayu putih dimasukkan diatas rak dalam ketel tempat perebusan dan pada dasar ketel diisi air yang dibakar menggunakan tung
ku,ketel ditutup rapat agar uapnya tidak keluar. Disebelah ketel tersebut ada bak penampung air yang merupakan salah satu tahap penyulingan
3. Uap dari daun yang direbus didinginkan hingga menjadi minyak air putih yang keluar dari pipa penyulingan dengan sendirinya.penyulingan berlangsung kurang lebih 20 menit.
4. Setelah minyak kayu putih keluar dilakukan pengemasan, namun sebelum dilakukan pengemasan. Minyak kayu putih disaring terlebih dulu dengan kapas, kemudian baru dimasukkan dalam botol dan ditutup dengan rapat.selain dapat menghasilkan minyak kayu putih, batang dan daun yang telah dimasak dikeringkan kembali yang kemudian bisa digunakan untuk pembakaran minyak kayu putih tersebut.kemudian minyak kayu putih siap untuk dipakai
Gambar 2. Minyak Kayu Putih Siap dikemas

Selain itu, ada beberapa cara untuk mendapatkan minyak kayu putih :
A. Dengan cara penyulingan: dari 800 g daun kayu putih dapat diperoleh minyak atsiri sebanyak 3 ml.
Cara yang bisa digunakan adalah mempersiapakan alat destilasi, kemudian menimbang daun kayu putih seperti yang diinginkan dan dimasukkan ke dalam alat destilasi, ditambahkan dengan aquades secukupnya (hingga terdapat rongga dilapisan bawah), kemudian dilakukan penyulingan dengan alat destilasi hingga mencapai 1 erlenmayer penuh yang berisi campuran air dan minyak. Selanjutnya campuran air dan minyak dipisahkan dengan eter menggunakan corong pisah dan didapatkan campuran eter dan minyak. Langkah terakhir adalah membiarkan eter menguap dan mulai diambil minyak atsiri yang terdapat dalam kayu putih. Hasil yang diperoleh dinyatakan dalam persen rendemen (%) dengan menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut: Rendemen (%) = berat minyak x 100% berat awal
Ada beberapa cara penyulingan, yaitu (Putih, 2007):
  1. Penyulingan dengan air (water destilation)
Awalnya, daun kayu putih dicacah, hasil cacahan daun kayu putih yang akan disuling mengalami kontak langsung dengan air mendidih. Minyak atsiri yang dihasilkan kemudian dibawa oleh uap air pada suhu 40-50 ºC yang kemudian didinginkan dengan dialirkan melalui pipa pendingin dan hasil sulingannya adalah minyak atsiri yang belum murni.
2.   Penyulingan dengan air dan uap (water and steam destilation)
Cacahan daun kayu putih ditempatkan dalam suatu tempat yang bagian bawah dan tengahnya berlobang-lobang yang ditopang di atas dasar alat penyulingan. Ketel diisi dengan air sampai permukaan air berada tidak jauh di bawah saringan, uap air bersama minyak atsiri dialirkan melalui pipa pendingin, selanjutnya hasil sulingan dihasilkan minyak atsiri.
B. Pembuatan ekstrak etanol daun kayu putih
75 gram serbuk daun kayu putih dibungkus dengan kertas saring dan kedua ujungnya diikat dengan benang. Sampel dimasukkan dalam rangkaian alat Soxhlet pelarut etanol 96 % ditambahkan (2,5 kali sirkulasi). Ekstraksi dilakukan dalam beberapa kali sirkulasi sampai larutan di dalam tabung Soxhlet berwarna jernih. Ekstrak yang dipero-leh, diuapkan dalam penangas air hingga pelarut menguap sampai tidak tercium bau etanol. Hasil ditimbang dan dibuat seri sediaan dengan pensuspensi CMC-Na 1 % (Pratita, 2007).
C. Dengan cara perendaman dalam air panas untuk mengeluarkan ekstrak kayu putih
Selain cara penyulingan menggunakan alat destilasi dan menggunakan rangkaian alat Soxhlet diatas, juga dapat diseduh, yaitu dengan cara merendam daun kayu putih dalam air panas yang bertujuan untuk mengeluarkan ekstrak kayu putih yang selanjutnya dapat diminum seperti teh sebagai obat batuk, sakit kepala, sakit gigi, dll.

STANDAR MUTU
Karena penggunaannya yang luas tersebut, mutu minyak kayu putih yang dijual di pasaran perlu mendapat perhatian. Untuk memenuhi tuntutan mutu tersebut, lahirlah standar nasional kayu putih yang diusulkan oleh PT. Perhutani (persero) melalui Pantek 55S Kayu, bukan kayu dan produk kehutanan, yaitu SNI 06-3954-2001. Standar tersebut menetapkan istilah dan definisi, syarat mutu, cara uji, pengemasan dan penandaan minyak kayu putih yang digunakan sebagai pedoman pengujian minyak kayu putih yang diproduksi di Indonesia.
Mutu minyak kayu putih diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mutu Utama (U) dan mutu Pertama (P). Keduanya dibedakan oleh kadar cineol, yaitu senyawa kimia golongan ester turunan terpen alkohol yang terdapat dalam minyak atsiri seperti kayu putih. Minyak kayu putih mutu U mempunyai kadar cineol ≥ 55%, sedang mutu P kadar cineolnya kurang dari 55%.
Secara umum, kayu putih dikatakan bermutu apabila mempunyai bau khas minyak kayu putih, memiliki berat jenis yang diukur pada suhu 15ºC sebesar 0,90 - 0,93, memiliki indeks bias pada suhu 20ºC berkisar antara 1,46 - 1,47 dan putaran optiknya pada suhu 27,5ºC sebesar (-4)o - 0o.  Indeks bias adalah bilangan yang menunjukkan perbandingan antara sinus sudut datang dengan sinus sudut bias cahaya, sedangkan yang dimaksud putaran optik adalah besarnya pemutaran bidang polarisasi suatu zat.
Disamping itu, minyak kayu putih yang bermutu akan tetap jernih bila dilakukan uji kelarutan dalam alkohol 80%, yaitu dalam perbandingan 1 : 1, 1 : 2, dan seterusnya s.d. 1 : 10. Dalam minyak kayu putih tidak diperkenankan adanya minyak lemak dan minyak pelican. Minyak lemak merupakan minyak yang berasal dari hewan maupun tumbuhan, seperti lemak sapi dan minyak kelapa, yang mungkin ditambahkan sebagai bahan pencampur dalam minyak kayu putih. Demikian juga minyak pelican yang merupakan golongan minyak bumi seperti minyak tanah (kerosene) dan bensin biasa digunakan sebagai bahan pencampur minyak kayu putih, sehingga merusak mutu kayu putih tersebut.
Bagian terpenting dalam standar tersebut, selain penetapan mutu di atas, adalah cara uji untuk mengetahui mutu minyak kayu putih, baik yang tercantum di dalam dokumen maupun kemasan. Pengujian dilakukan dengan dua cara, yaitu cara uji visual dan cara uji laboratories. Cara uji visual dilakukan untuk uji bau, sedangkan uji laboratories dilaksanakan untuk menguji kadar cineol, berat jenis, indeks bias, putaran optik, uji kelarutan dalam alkohol 80%, kandungan minyak lemak dan kandungan minyak pelican.
Minyak kayu putih merupakan salah satu produk kehutanan untuk tujuan ekspor yang penerapan standarnya bersifat wajib. Selain minyak kayu putih, produk kehutanan yang penerapan standarnya diwajibkan oleh Pemerintah adalah produk kayu lapis dan gambir.
Sumber : SNI 06- 3954- 2006
KEGUNAAN
Minyak kayu putih telah digunakan sejak lama karena mempunyai sifat antiseptik dan antibakteri. Minyak ini sering digunakan sebagai obat rumah untuk pilek, infeksi sinus, hidung tersumbat, flu dan masalah pernapasan. Menerapkan beberapa tetes minyak kayu putih di sapu tangan juga merupakan praktik umum. Masih banyak jutaan khasiat minyak kayu putih dalam kehidupan.
Minyak kayu putih adalah salah satu minyak esensial yang memegang kepentingan besar dalam bidang aroma terapi. Minyak ini memiliki sifat anti-bakteri dan anti-mikroba yang sangat baik sehingga sering digunakan dalam sabun, deodoran, lotion, parfum dan produk kebersihan lainnya.
Minyak kayu putih dapat digunakan untuk mengobati masalah kulit, memar dan gangguan kulit.
Minyak kayu putih juga bermanfaat dalam kasus sakit gigi, karena itu adalah minyak ini adalah bahan yang umum dalam produk perawatan gigi seperti pasta gigi, obat kumur, dll.
Campuran beberapa tetes minyak kayu putih di dalam air mandi anjing peliharaan Anda dapat melindungi anjing Anda dari kutu dan parasit lainnya.
Mencampur sedikit minyak kayu putih dengan minyak lain untuk pijat memiliki efek yang sangat menenangkan pada tubuh dan pikiran. Sebab sifatnya membantu menghilangkan pikiran yang lelah, badan pegal, dan nyeri otot.
Minyak kayu putih adalah stimulan yang sangat baik dan membantu dalam meningkatkan sirkulasi darah dengan meningkatkan aktivitas jantung.
Minyak kayu putih juga digunakan sebagai penyedap dalam produk-produk makanan tertentu seperti kembang gula atau makanan yang dipanggang.
Saat berkemah jangan lupa untuk membawa sebotol minyak kayu putih karena sangat efektif terhadap gigitan serangga, sengatan dan ruam kulit. Minyak tersebut juga baik untuk mengusir nyamuk
Desinfektan. Minyak kayu putih bila dicampurkan dengan air dapat menghasilkan desinfektan rumah tangga yang efektif dan mudah dibuat.
Sebagai obat batuk. Campurkan beberapa tetes minyak kayu putih dalam segelas air hangat dan gunakan untuk berkumur. Ini akan mengurangi rasa sakit dan tenggorokan Anda akan merasa jauh lebih baik.
Minyak kayu putih membantu dalam mengendalikan kadar gula darah.



sumber :
http://www.aamboyz.blogspot.com/2010/04/sekilas-tentang-minyak-pohon-kayu-putih.html
http://amrullha.wordpress.com/minyak-kayu-putih/
http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_kayu_putih
http://www.merdeka.com/sehat/khasiat-minyak-kayu-putih-yang-menakjubkan.html
http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/info_5_1_0604/isi_6.htm
http://intisari-online.com/read/11-khasiat-minyak-kayu-putih



0 komentar:

Posting Komentar